"Tuan ... Nyonya ... ke manakah kita 'kan berlabuh kali ini?"
Dengan hati gundah pula resah, Jenggala melangkah menyusuri adimarga menyala, mengikuti kedua makhluk yang lebih asing dari bayang-bayang malam kala terakhir ia saksikannya. Hutan yang ia lalui tampak seperti serpihan-serpihan mimpi yang melesat keluar dari dunia fana. Pohon-pohon raksasa menjulang dengan dedaunan berwarna ungu terang, bergemuruh pelan seperti bisikan purba. Aroma manis menyeruak dari bunga-bunga liar yang tampak menyala dengan cahaya bioluminesen, sementara kabut tipis bergelayut di antara akar-akar yang mencengkram bumi dengan penuh keanggunan. Setiap langkahnya terasa seolah memasuki dimensi yang lain dan Jenggala kagum tak terkira atas apa-apa saja yang menyapa netranya. Burung-burung bersayap kaca melesat di atas kepala, membawa kilauan pelangi di ujung bulu mereka. Angin berdesir lembut, tetapi membawa gumaman aneh ... seperti cerita kuno yang hanya bisa didengar oleh mereka yang benar-benar mendengarkan.“Apa ini … surga? Ataukah sekadar khayalku belaka?” cicit Jenggala pada dua makhluk bertelinga lancip di depannya. Namun, kedua makhluk asing itu tetap tak bergumam barang sedikit pun, seolah mereka tak mendengar apa-apa kecuali panggilan tak kasat mata yang memandu mereka.Di kejauhan, terlihat sebuah pohon tunggal yang menjulang lebih tinggi dari segalanya, dengan cabang-cabangnya yang bercahaya seperti bintang. Jenggala merasa langkah kakinya semakin berat. Namun, di tengah beratnya langkah, hatinya—yang tadi gundah dan resah—seolah tertarik oleh daya tak terlihat. Jenggala melangkah perlahan, penasaran akan kebenaran apa yang menanti di sana.
"Pohon apakah ini?" tanya Jenggala setelah kedua yang lainnya menghadap pada dirinya."Gerbang 'tuk menuju Des Graphein. Kau akan menemukan sesamamu di sana, sesamamu yang gemar bercerita, menuliskannya, dan mempertahankan segala yang ada dengan tulisan."
(2024) Mereka tersohor dengan nama We-WRITE (Kami-MENULISkan). Di tengah hiruk-pikuk janabijana diporakporandakan dungu (kemerosotan literasi), mereka berkumpul 'tuk terus melestarikan bahasa dan sastra: dengan harap supaya budayanya dapat terus ada. Dengan cara terus berkarya, berbagi keilmuannya, hingga menorehkan memori bersama, mereka akan diingat sebagai tulisan fana yang amat nyata bagi masa depan kesastraan di kalangan anak muda.
Ya teman-teman, tempat ini adalah RUMAH: rumah bagi sekumpulan penulis mahakarya dari tawa hingga lara. Sebabnya itu, jangan heran bila banyak senda gurau hingga nestapa tertuang selama jalanan dirampungkan (tentu oleh mereka).

















